« Puisi Air Mata Terakir untuk Gi | Main | Negeri Abu Nawas »

June 23, 2006

Mahasiswa: antara harapan dan kenyataan

Dengan berbekal uang hasil penjualan kambing dan uang tabungan yang ia kumpulkan selama beberapa tahun, dan dengan diiringi do’a kedua orang tuanya berangkatlah si Udin menuju kota Banjarmasin untuk melanjutkan studinya dengan harapan nantinya ia bisa menjadi “orang”. Setelah melewati pesaingan yang ketat, ia pun diterima di salah satu  perguruan tinggi di Banjarmasin.

Dengan penuh kesabaran ia menjalani masa-masa kuliahnya, tetap dengan cita-cita semula: supaya kelak bisa menjadi “orang”. Setelah melewati masa-masa  yang panjang dan melelahkan , akhirnya si Udin pun lulus. Pada waktu acara wisuda sarjana orang tuanyapun turut hadir. Dengan wajah berseri-seri mereka mendampingi sang anak yang mengenakan pakaian “kebesaran” (toga)- tanpa pernah mempersoalkan mengapa mereka harus berbusana seperti itu. Syukuran pun diselenggarakan-apapun tafsiran mereka atas makna syukuran . Si orang tua mungkin tidak pernah tahu cara apa yang telah ditempuh anaknya dalam upaya meraih gelar sarjana. Dan si Udin pun seakan lupa total pada cara-cara yang dilaluinya selama ini.

Dengan berbekal ijazah yang baru diterimanya, si Udin  kemudian harus terbentur-bentur dari pintu  instansi yang satu ke pintu instansi yang lain, kenyataan pahit harus diterimanya: tidak ada yang sudi menerimanya jadi pegawai (Karena memang kesempatan kerja yang semakin sempit seperti sekarang ini memperkecil kemungkinan ia mendapat tempat). Lama kemudian,  setelah nyaris frustasi dan setelah map yang berisi surat lamaran dan macam-macam surat lainnya lusuh, barulah ia mendapatkan pekerjaan, itupun dibidang yang tidak diminatinya dan  tidak ada kaitannya dengan disiplin ilmu dipelajarinya selama bertahun-tahun di bangku kuliah.

Si Udin masih lebih beruntung bila dibandingkan dengan temannya yang “hingga tetes darah penghabisan” belum juga mendapatkan pekerjaan. Akhirnya ia pulang kampung, bertani, ataupun apapun yang penting ia bisa hidup.

Sebenarnya ada juga temannya yang bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan posisi yang “lumayan” . mengapa?  Karena ia punya koneksi yang kuat atau modal yang dapat digunakan untuk membayar uang “ketebelece”. Atau sebagian yang lain memang telah dipersiapkan sejak dini oleh ayahnya, pamannya, saudaranya, atau kerabatnya. Dengan kata lain, jaringan koneksi memang telah tersusun rapi jauh sebelum mereka lulus kuliah.

Dari realitas tersebut  orang pun mulai  mempertanyakan: “ mengapa suatu perguruan tinggi bisa sampai menghasilkan produk yang kualitas intelektual dan kualitas moralnya rendah?

Tulisan ini tidak ingin mencari mana telur masalah, dan mana ayam persoalannya. Tulisan ini hanya sekedar “risalah lepas” bagi rekan-rekan mahasiswa dan juga para staff akademika bahwa tantangan yang kita hadapi ke depan sangat berat. Saatnya kita membenahi sistem pendidikan yang ada, sehingga nantinya dapat melahirkan insan-insan akademis yang handal secara inteletual dan anggun secara moral. Untuk menuju ke arah tersebut, suguhan-suguhan keilmuan dan kajian-kajian ilmiah harus di semarakkan untuk dapat merangsang kreativitas dan kemampuan penalaran kritis mahasiswa, sehingga nantinya ia mampu memposisikan diri di tengah-tengah masyarakatnya sebagai pembawa perubahan (agent of change). Menjadi “orang” sebagaimana yang menjadi harapan si Udin, seharusnya tidak diukur dari sudut pandang materi. Menjadi “orang” disini adalah  sejauh mana ia ikut bergumul dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan dan mampu memberikan gugusan ide yang cerdas dan solutif yang dapat memberikan arah bagi kemacetan sosial yang dihadapi masyarakatnya.

Barangkali perlu mempertanyakan kembali, apakah yang kita kerjakan selama ini telah sesuai dengan hakikat tujuan pendidikan suatu perguruan tinggi sebagai lembaga ilmu pengetahuan? . Yang sering dilupakan bahwa tujuan utama dari pendidikan universitas, adalah membentuk kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah manusiawi dan menolong manusia membentuk suatu dunia yang lebih baik baginya.

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .